Showing posts with label Buah Mahkota dewa. Show all posts
Showing posts with label Buah Mahkota dewa. Show all posts

Friday, August 2, 2013

Nikmatnya Teh Racik Mahkota Dewa

Secara empiris kulit dan daging buah mahkota dewa (phaleria macrocarpa) mampu mengobati flu, rematik, dan kanker. Sementara itu, bijinya sering dipakai sebagai obat luar, untuk menyembuhkan aneka penyakit kulit. Memang belum banyak penelitian medis atau uji klinis tentang tanaman obat ini, yang ada hanyalah pembuktian berdasarkan pengalaman pengguna.

Namun, dr.Regina Sumastuti, pengajar Fakultas Kedokteran UGM telah membuktikan bahwa mahkota dewa mengandung antihistamin. Zat ini berperan menyembuhkan penyakit alergi seperti sesak napas, biduren,dan gatal-gatal. Kecuali itu, pada daunnya terdapat polifenol, alkaloid, saponin, dan flavonoid.

Mahkota dewa dilarang untuk dikonsumsi langsung bisa karena bisa berefek sebagai racun. Dengan kata lain, sebelum dikonsumsi sebaiknya buah tersebut diproses dulu,
Bagaimana caranya? Ada baiknya kita ikuti pengalaman Ning Harmanto (Agromedia Pustaka,2001), yang telah berhasil memproduksi “teh racik”dari buah mahkota dewa.

Berikut tahapan pengolahan buah mahkota dewa menjadi teh.

1. Petik buah mahkota dewa yang sudah tua atau matang dipanen, lalu pilih buah yang utuh serta bebas dari bekas serangan hama dan penyakit.

2. Cuci dibawah air mengalir, tanpa mengunakan sabun atau deterjen.

3. Ambil kulit dan daging buahnya dengan cara diiris tipis. hati-hati saat pengambilan daging buah ini, jangan sampai cangkangnya ikut terambil karena bagian inilah yang beracun. Jemur selama 2-3 hari hingga kering atau beratnya tinggal 10% dari bobot basah. Tujuan pengeringan ini adalah untuk menghilangkan unsur-unsur racun yang terdapat didalamnya.

4. Jika sudah kering, ambil potongan-potongan buah mahkota dewa tersebut lalu sangrai selama 5 menit diatas api kecil. Warnanya akan berubah menjadi cokelat-kehitaman seperti teh. Tujuan penyangraian ini adalah untuk mematikan bakteri-bakteri yang menempel selama pengeringan.

5. Masukkan mahkota dewa yang sudah disangrai kedalam panci atau kuali tanah liat, lalu tambahkan air bersih sebanyak 2 gelas. Panaskan panci hingga air dalam panci tinggal setengahnya. Saring air rebusannya dan setelah hangat bisa langsung diminum. Jika tahan pahit, setelah minum teh racik mahkota dewa ini bisa disusul dengan menelan gula kelapa atau gula aren.

Di sebutkan kenapa biji mahkota dewa tidak ikut di proses menjadi obat banyak yang menuturkan biji mahkota dewa mempunyai zat racun dan kalau di makan bisa mengakibatkan muntah - muntah atau sampai mati rasa. Maka dari itu sebaiknya biji buah mahkota dewa di budidayakan lagi supaya nantinya banyak obat - obatan herbal apalagi dengan menanam buah mahkota dewa tidak perlu perawatan yang ekstra karena tanpa adanya perawatan pun mahkota dewa bisa hidup dan tumbuh dari musim ke musim.

Bagian lain dari tumbuhan mahkota dewa yang bisa di jadikan obat adalah batangnya yang bisa di jadikan obat kanker tulang. Sedangkan daunnya bisa di gunakan untuk mengobati lemah syahwat, disentri, alergi dan tumor dengan cara cukup merebus dengan air lalu di minum. Dan jangan kaget pula ketika meminum air dari daun mahkota dewa. Air daun mahkota dewa yang di minum bisa mengakibatkan kantuk atau mabuk. Efek tersebut normal dan tidak perlu khawatir. Jika mabuknya berkelanjutan akibat dari minum air daun mahkota dewa cukup dengan minum air sebanyak - banyaknya sampai rasa mabuknya hilang.

LARANGAN
Janganlah makan buah mahkota dewa mentah secara langsung, karena bisa mengakibatkan keracunan. Gejalanya adalah sakit perut, pusing, muntah-muntah, dan mabuk. Terlebih lagi bijinya sangat beracun. Biji mahkota dewa yang tertelan akan mengakibatkan mati rasa dan lidah kaku.

Harus di ingat pula bahwa wanita hamil usia muda di anjurkan jangan menkonsumsi buah mahkota dewa karena mahkota dewa bisa memacu kerja otot rahim untuk mempercepat proses persalinan sehingga bisa membahayakan kehamilan yang masih muda.

Sumber :
http://www.tokomarwa.blogspot.com/2008/08/khasiat-mahkota-dewa.html


baca selanjutnya...

Thursday, July 11, 2013

Mahkota Dewa Serta Manfaatnya

Pohon Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) dikenal sebagai salah satu tanaman obat di Indonesia. Asalnya dari Papua/Irian Jaya.

Nama Lain:
Makuto Rojo, Makuto Ratu, Obat Dewa, Pau (Obat Pusaka), Crown of God, Boh Anggota Dewan, Simalakama (bahasa malayu).

Tanaman atau pohon mahkota dewa seringkali ditanam sebagai tanaman peneduh. Ukurannya tidak terlalu besar dengan tinggi mencapai 3 meter, mempunyai buah yang berwarna merah menyala yang tumbuh dari batang utama hingga ke ranting.

Untuk memperpanjang masa simpan buah mahkota dewa, dapat dilakukan pengawetan dengan beberapa cara antara lain pendinginan, pengalengan, dan pengeringan. Pengeringan yang dilakukan pada buah mahkota dewa bertujuan mengurangi kadar air dalam bahan, sehingga air yang tersisa tidak dapat digunakan sebagai media hidup mikroba perusak yang ada di dalam bahan tersebut, dengan kata lain dapat memperpanjang masa simpan buah mahkota dewa tersebut. Kondisi pengeringan yang tepat akan menentukan mutu hasil pengeringan yang tinggi.

Kandungan Buah mahkota dewa :
- Alkaloid, bersifat detoksifikasi yang dapat menetralisir racun di dalam tubuh
- Saponin, yang bermanfaat sebagai:
sumber anti bakteri dan anti virus
meningkatkan sistem kekebalan tubuh
meningkatkan vitalitas
mengurangi kadar gula dalam darah
mengurangi penggumpalan darah
- Flavonoid
melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh dan mencegah terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah
mengurangi kandungan kolesterol serta mengurangi penumbunan lemak pada dinding pembuluh darah
mengurangi kadar risiko penyakit jantung koroner
mengandung antiinflamasi (antiradang)
berfungsi sebagai anti-oksidan
membantu mengurangi rasa sakit jika terjadi pendarahan atau pembengkakan
- Polifenol
berfungsi sebagai anti histamin (antialergi)

HERBAL MAHKOTA DEWA UNTUK MENGOBATI DIABETES MELLITUS
Bahan:
5 – 6 buah mahkota dewa diiris
5 gelas air
Cara Membuat:
Rebus hingga tinggal 3 gelas, saring.
Minum 3 x 1 hari, tiap minum 1 gelas.

HERBAL MAHKOTA DEWA UNTUK MENGOBATI HEPATITIS
Bahan:
5 g daging buah mahkota dewa kering
15 g pegagan
10 g sambiloto kering
15 g daun dewa
5 gelas air
Cara Membuat:
Rebus semua bahan hingga tinggal 3 gelas, saring.
Minum 3 x 1 hari, tiap minum 1 gelas.

HERBAL MAHKOTA DEWA UNTUK MENGOBATI KANKER DAN TUMOR
Bahan:

5 g daging buah mahkota dewa kering
15 g temu putih
10 g sambiloto kering
15 g cakar ayam kering
5 gelas air
Cara Membuat:
Rebus semua bahan hingga tinggal 3 gelas, saring.
Minum 3 x 1 hari sebelum makan, tiap minum 1 gelas.

HERBAL MAHKOTA DEWA UNTUK MENGOBATI REMATIK DAN ASAM URAT
Bahan:
5 g daging buah mahkota dewa
15 g akar sidaguri
10 g sambiloto kering
5 gelas air
Cara Membuat:
Rebus semua bahan hingga tinggal 3 gelas, saring.
Minum 3 x 1 hari sebelum makan, tiap minum 1 gelas.

HERBAL MAHKOTA DEWA UNTUK MENGOBATI DISENTRI
Bahan:
5 g kulit buah mahkota dewa kering
2 gelas air
Cara Membuat:
Rebus sampai mendidih selama 15 menit, dinginkan, saring dan minum airnya sekaligus.
Minum 2-3 kali sehari.

HERBAL MAHKOTA DEWA UNTUK MENGOBATI EKSIM, GATAL - GATAL
Bahan:

Daun mahkota dewa segar secukupnya
Cara Membuat:
Giling sampai halus
Tempelkan pada bagian yang sakit, lalu balut
Ganti 2-3 kali sehari.

Sumber :
http://kamijarawulung.blogspot.com/2013/06/mahkota-dewa-serta-manfaatnya.html


baca selanjutnya...

Monday, September 5, 2011

Cegah Kanker Usus Besar (Karsinoma Kolerektal) dengan Pola Hidup Sehat

Karsinoma kolorektal berkaitan dengan kolon (usus besar) dan rektum (poros usus). Saat ini, kasus kanker usus besar semakin meningkat dan diduga akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Hal tersebut berhubungan dengan pola makan modern yang tidak sehat seperti makanan siap saji yang mengandung lemak tinggi.

Di Indonesia, kanker usus besar atau kolorektal termasuk dalam sepuluh besar jenis kanker yang banyak dideritan yaitu pada urutan ke-6 terbesar. Umumnya penderita kanker ini berusia di atas 40 tahun, namun saat ini di Indonesia penderita kanker usus besar banyak diderita oleh usia muda di bawah 40 tahuan. Hal ini dipicu oleh perubahan gaya hidup yang tidak sehat dan lingkungan.

Penyebab jelas kanker usus besar belum diketahui secara pasti, namun makanan merupakan faktor yang penting dalam kejadian kanker tersebut. Yaitu berkorelasi dengan faktor makanan yang mengandung kolesterol dan lemak hewan tinggi, kadar serat yang rendah serta adanya interaksi antara bakteri di dalam usus besar dengan asam empedu dan makanan. Faktor – faktor tersebut akan memproduksi bahan karsinogenik yang memicu kanker usus besar/kolorektal.

Selain itu, ada beberapa faktor risiko tinggi terhadap jenis kanker ini, yaitu mempunyai salah satu keluarga yang terkena kanker usus besar, menderita poliposis (multiple polip di kolon), kolitis ulserosa, berumur 40 tahun ke atas dan memiliki riwayat gangguan saluran pencernaan.Gejala dari kanker kolorektal tergantung pada lokasi dan stadium tumor. Pada umumnya pertumbuhan tumor pada sisi kanan dan kiri usus besar menunjukan gejala agak berbeda. Tumor pada sebelah kiri menunjukan gejala terblokirnya usus pada tahap awal, yaitu pendarahan pada rektum, rasa kenyang atau kram lambung, feses bercampur lendir dan darah, serta adanya tekanan pada rektum. Pada perkembangannya, diare dan sembelit silih berganti. Pada stadium lanjut, nafsu makan dan berat badan semakin menurun, warna feses menjadi hitam bercampur darah.

Tumor yang tumbuh pada sebelah kanan usus besar menunjukan gejala seperti kram lambung, anemia dan feses berwarna hitam. Pada perkembangannya menunjukan gejala lelah, sesak nafas waktu bekerja, diare atau sembelit, berat badan turun, muntah dan gejala lain karena tersumbatnya usus.

Kanker usus besar atau kolorektal merupakan jenis kanker yang dapat dicegah dengan perubahan pola makan dan gaya hidup yang sehat, seperti berikut :
cukup mengkonsumsi serat, seperti sayur dan buah-buahan, kacang-kacangan (lima porsi setiap hari). Serat dapat melancarkan pencernaan dan buang air besar sehingga berfungsi menghilangkan kotoran dan zat yang tidak berguna di usus, karena kotoran yang terlalu lama mengenadap di usus akan menajdi racun yang memicu sel kanker.

Menghindari makanan yang mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi terutama yang terdapat pada daging hewan.
Menghindari makanan yang diawetkan dan pewarna sintetik, karena hal tersebut dapat memicu sel karsinogen/sel kanker.
Menghindari minuman beralkohol dan rokok yang berlebihan.
Melaksanakan aktifitas fisik atau olahraga secara teratur.
Kanker usus besar cenderung menyebar secara lamban dan tetap terlokalisir (tidak menyebar ke bagian lain) untuk waktu yang lama. Dengan demikian kanker tersebut berpotensi untuk dapat diobati, tentunya apabila terdeteksi secara dini dan segera diobati sebelum menyebar ke limfonodus, sehingga kesempatan harapan hidup dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, untuk mendeteksi kanker kolorektal secara dini harus melakukan pemeriksaan yang teratur terutama pada mereka yang berisiko tinggi, dan mempunyai riwayat gangguan pencernaan.

Karena di Indonesia kanker usus besar banyak terjadi pada usia muda di bawah 40 tahun, maka sebaiknya screening/pemeriksa an sudah mulai dilakukan ketika usia 30 tahunan. Screening dapat dilakukan dengan alat kolonoskopi (memeriksa kolon) proktoskopi (pemeriksaan rektum dan kolon bagian bawah) atau endoskopi (peneropongan bagian dalam suatu organ tubuh).Menerapkan gaya hidup dan pola makan sehat sangat penting mencegah kejadian kanker kolorektal/usus besar. Apabila kanker telah terdiagnosa, segera melakukan pengobatan.

Saat ini, pengobatan utama untuk kanker kolorektal adalah pembedahan (operasi). Namun tidak semua orang mampu menjalankan pengobatan konvensional tersebut karena berbagai alasan, diantaranya karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Oleh karena itu banyak penderita kanker yang mencari solusi lain, yaitu melalui pengobatan tradisional dengan terapi tumbuhan obat. Tumbuhan obat antikanker banyak yang sudah uji klinis berdasarkan penelitian pada hewan percobaan dan banyak pula yang digunakan berdasarkan bukti empiris atau pengalaman turun-temurun. Dalam pengobatan kanker, sebaiknya terapi tumbuhan obat juga ditunjang dengan pengobatan medis/konvensional. Seperti halnya di rumah sakit tradisional di Tiongkok yang menggunakan kombinasi pengobatan medis barat dan timur (tumbuhan obat).
Berikut ini contoh ramuan tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk membantu pengobatan kanker usus besar/kolorektal.

Resep 1.
30 gram rumput lidah ular kering + 30 gram herba Scutellariae barbatae + 30 gram biji jali (direndam dulu) + 30 gram gadung china yang kering, semuanya dicuci dan direbus dengan 1 liter air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum 2 kali sehari, setiap kali minum 200 cc.

Resep 2.
5 gram buah mahkota dewa yang kering + 50 gram temu putih segar atau 20 gram yang kering + 30 gram rumput mutiara atau rumput lidah ular yang kering + 30 gram jombang kering, semuanya dicuci bersih dan direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari, setiap kali minum 200 cc.

Catatan :
- pilih salah satu resep dan lakukan secara teratur
- Untuk perebusan gunakan periuk tanah, atau panci enamel. Jangan menggunakan panci logam seperti alumunium, besi dan lainnya.
- Hindari daging terutama daging merah yang berlemak, makanan yang berkolesterol tinggi, makanan yang diawetkan, diberi pewarna sintetik, makanan yang dibakar, penyedap/MSG, rokok, minuman beralkohol & soft drink, dan kurangi makanan pedas/cabe.
- Tetap konsultasi ke dokter

Bahan–bahan yang dapat dibeli di toko obat Tionghoa, yaitu :
- Herba Scutellariae barbatae = Ban zhi lian
- Rumput lidah ular = Bai hua she she cao
- Gadung Cina = Ba qia
- Jombang = Pu gong ying

Sumber : http://theeazayoe.blogspot.com/2007/04/mencegah-kanker-usus-besar.html


baca selanjutnya...

Wednesday, December 1, 2010

Herbal Untuk Kencing Manis

Anda terkena Diabetes Mellitus, Cobalah ramuan berikut ini untuk membantu mengendalikan penyakit diabettes mellitus (kencing manis).

Daun salam
Daun yang banyak digunakan sebagai penyedap masakan ini bila digunakan secara teratur dapat membantu mengendalikan kadar gula darah agar tetap normal.
Bahan: 75-100 gr daun salam
Cara membuat: Rebus daun salam dengan tiga gelas air hingga tinggal setengahnya. Dinginkan dan disaring, lalu minum tiga kali sehari masing-masing setengah gelas. Lakukan secara teratur.

Biji alpukat
Bahan: Satu biji alpukat
Cara membuat: Iris tipis-tipis biji alpukat, jemur sampai kering. Irisan biji ini disangrai atau digoreng tanpa minyak, setelah itu blender sampai lembut. Masukkan bubuk biji alpukat ke dalam kulit kapsul yang dapat dibeli di apotek. Minum kapsul biji alpukat satu kali sehari.

Pare
Bahan: 2000 gr buah pare
Cara membuat: Cuci buah pare sampai bersih, iris tipis-tipis, rebus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, lalu diminum. Lakukan setiap hari.

Daun sambiloto
Bahan: 1/2 genggam daun sambiloto segar
Cara membuat: Cuci lalu rebus daun sambiloto dengan 3 gelas air sampai tersisa dua seperempat gelas. Setelah dingin saring, lalu minum sehabis makan, 3 kali sehari. Tiap kali minum 3/4 gelas saja.

Daun sendok
Bahan: 15 sampai 30 gram daun sendok segar
Cara membuat: Daun dibersihkan lalu direbus. Saring dan minum airnya.

Mahkota dewa
Bahan: 5-6 buah mahkota dewa
Cara membuat: Iris dan cuci bersih buah mahkota dewa, rebus bahan dalam 5 gelas air. Biarkan hingga air tersisa 3 gelas. Saring dan minum 3 kali sehari (masing- masing 1 gelas).

Sumber:
http://cariobat.blogspot.com/


baca selanjutnya...

Wednesday, August 4, 2010

Khasiat Buah Mahkota Dewa

Setelah mengetahui khasiat tumbuhan satu ini, mungkin Anda segera berminat menanamnya. Dunia tanaman obat kini kedatangan “pendatang baru” yang lumayan hebat. Mahkota dewa namanya.

Ia bisa membuat penderita penyakit ringan macam gatal-gatal, pegal-pegal, atau flu, hingga penyakit berat seperti kanker dan diabetes, merasakan kesembuhan.

Mengetahui khasiat tumbuhan satu ini, mungkin Anda segera berminat menanamnya. Betapa tidak. Tanaman ini ternyata punya khasiat luar biasa. Ia bisa menyembuhkan gangguan kesehatan dari yang ecek-ecek hingga yang nyaris tak ada harapan sembuh. Kalau cuma pegal-pegal, sehari dua hari bakal hilang.

Flu?
Wah, itu tugas yang juga bisa dibereskan dalam sehari dua hari. Diabetes pun bakal takluk dalam beberapa bulan.

Bagaimana dengan kanker?
Meski butuh waktu bulanan, tanaman ini pun sanggup melawannya sampai titik darah penghabisan. Paling tidak itu berdasarkan pengalaman empiris banyak orang, termasuk yang merasa sembuh dari penyakit pada organ hati atau jantung, hipertensi, rematik, serta asam urat.

Untuk mengolahnya jadi obat pun sangat gampang. Cuma dengan menyeduh “teh racik” terbuat dari kulit dan daging buah, cangkang buah, atau daunnya, bahan obat alami ini pun siap dipakai. Kalau enggak menghendaki rasa pahitnya, kita bisa sedikit bersusah payah mengolahnya menjadi ramuan instan. Rasanya ditanggung lebih sedap tanpa mengurangi khasiat.

Itulah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa). Tanaman yang kabarnya berasal dari daratan Papua ini di Jawa Tengah dan Yogyakarta dijuluki makuto dewo, makuto rojo, atau makuto ratu. Orang Banten menyebutnya raja obat, karena khasiatnya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Sementara, orang-orang dari etnik Cina menamainya pau yang artinya obat pusaka.

Dari alergi hingga kanker

Sebagian orang mungkin pernah sekadar melihatnya, sebagian lagi mendengar namanya pun tidak pernah. Wajar bila selama ini sangat sedikit orang tahu mahkota dewa. Apalagi khasiatnya. Bahkan, di banyak lembaga penelitian yang menangani tumbuhan berkhasiat obat belum ditemukan hasil penelitiannya.

Sampai saat ini, setidaknya baru dr. Regina Sumastuti dari Jurusan Farmakologi, Universitas Gadjah Mada yang telah menelitinya. Itu pun masih terbatas pada pengujian terhadap efek antihistamin atau antialergi.

Padahal, kalangan keraton Solo dan Yogyakarta telah lama mengenalnya dan memanfaatkannya sebagai tanaman obat. Beruntung, lama-lama manfaat luar biasa ini bocor ke kalangan awam.

Sekarang, tanaman ini seakan turun dari langit sebagai “dewa penyelamat” orang sakit. Berbagai kesaksian dikemukakan mereka yang telah merasakan khasiatnya. Dalam buku Mahkota Dewa Obat Pusaka Para Dewa karya Ning Harmanto, ketua Kerukunan Wanita Tani Bunga Lily, yang menekuni pengobatan dengan mahkota dewa, ada 26 orang yang mengakui keampuhannya atau ditulis berhasil sembuh dari sakitnya berkat mahkota dewa.

Di antara mereka adalah Tuti Ariestyani Winata, yang setelah menjalani operasi pengangkatan kista di rahim, mengalami kemunduran kondisi tubuh. Badannya kurus, perutnya membuncit seperti sedang hamil tua, jari-jari kakinya menggemuk, tekanan darahnya naik-turun, dan Hb-nya sangat rendah.

Beberapa dokter yang dikunjunginya memberikan diagnosis berbeda. Ada yang mendiagnosisnya menderita kanker hati, sirosis hati, dan ada pula yang menyatakan dia menderita hepatitis kronis. Tak kunjung memperoleh kepastian penyakit yang dideritanya, atas saran Ning, Tuti akhirnya mengonsumsi air rebusan daging buah mahkota dewa. Setelah enam bulan, Tuti merasa sembuh dan kondisi tubuhnya membaik kembali.

Selain Tuti, Diana yang berdomisili di Bekasi menyatakan berhasil sembuh dari penyakit kanker di payudara kanannya setelah menjalani operasi dua kali lagi untuk membersihkan kanker di payudara kirinya.

Anna Winata di Bogor dan Retno di Bekasi juga merasakan sehat kembali dari sakit kanker rahim berkat mahkota dewa. Ny. Parlan di Balikpapan pun berhasil menormalkan kadar gula darahnya berkat tumbuhan obat ini.

Masih banyak lagi contoh keberhasilan yang lain. Sayangnya, yang tidak berhasil tidak pernah terungkap, sehingga tidak bisa diketahui penyakit apa yang tidak mampu dilawan tanaman berbuah merah menyala ini.

Selama ini daun dan buah mahkota dewa dimanfaatkan masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, sebagai obat penyakit kulit, gatal-gatal, dan eksim. Penyakit tersebut ditandai dengan gejala gatal-gatal, pertanda adanya alergi terhadap agen tertentu yang mendorong sel-sel tubuh mengeluarkan histamin.

Soal kemampuan melawan penyakit kulit ini Sumastuti sudah membuktikannya. Dari penelitian secara in vitro menggunakan usus halus marmot, diketahui, memang benar daun dan buah mahkota dewa mempunyai efek antihistamin. Artinya, tanaman tersebut secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya sebagai obat gatal-gatal akibat gigitan serangga atau ulat bulu, eksim, dan penyakit lain akibat alergi.
Penelitian lain masih kita tunggu untuk membuktikan khasiat luar biasa seperti yang dirasakan beberapa orang di atas. Namun, cerita dari mulut ke mulut rupanya sudah membuat orang, terutama yang sakit berat dan umumnya hampir putus harapan, percaya. Maka, orang pun mulai beramai-ramai mencari bagian berkhasiat mahkota dewa.

Tak sedikit yang mencoba menanamnya di pekarangan rumah. Bahkan, ada yang melihat “wabah” ini sebagai peluang usaha untuk membudidayakan dan mengolahnya menjadi produk ramuan obat tradisional atau jamu dengan berbagai bentuk.

Dijadikan “teh”

Menanam mahkota dewa memang bukan perkara sulit. Tumbuhan, yang bisa hidup baik pada ketinggian 10 - 1.000 m dpl., ini bisa ditanam dari biji atau hasil cangkokan.
Meski penanamannya bisa di dalam pot atau langsung di tanah, pertumbuhannya akan lebih baik bila ditanam di tanah. Tanaman dari biji biasanya sudah berbuah pada umur 10 - 12 bulan. Yang berasal dari cangkokan, mestinya berbuah lebih cepat.

Buah inilah bagian yang paling banyak digunakan sebagai obat alami, di samping daun dan batang. Dari ketiga bagiannya, yakni kulit dan daging buah, cangkang (batok biji), serta biji, yang dimanfaatkan umumnya kulit dan daging buah serta cangkangnya. Buah muda berwarna hijau dan yang tua berwarna merah cerah.

“Khasiat buah muda dan tua sama saja,” jelas Ning. Sayang, senyawa apa yang terkandung dalam bagian-bagian buah, masih belum terungkap secara detil. Cuma, Hutapea dkk. (1999), seperti dikutip Sumastuti, menyatakan, dalam daun dan kulit buah makuto dewo terkandung senyawa saponin dan flavonoid, yang masing-masing memiliki efek antialergi dan antihistamin.

Ning menulis, dalam keadaan segar, kulit dan daging buah muda mahkota dewa terasa sepet-sepet pahit. Sedangkan yang sudah tua sepet-sepet agak manis. Jika dimakan segar akan menimbulkan bengkak di mulut, sariawan, mabuk, bahkan keracunan. Apa penyebabnya, belum diketahui dengan pasti. Karenanya, tidak dianjurkan untuk mengonsumsinya dalam keadaan segar.

Cangkangnya memiliki rasa sepet-sepet pahit, lebih pahit dari kulit dan daging buah. Bagian ini juga tidak dianjurkan untuk dikonsumsi langsung karena dapat mengakibatkan mabuk, pusing, bahkan pingsan. Namun, setelah diolah, bagian ini lebih mujarab ketimbang kulit dan daging buah. Ia dapat mengobati penyakit berat macam kanker payudara, kanker rahim, sakit paru-paru, dan sirosis hati.

Ada alasan mengapa biji mahkota dewa tidak dikonsumsi. “Bijinya sangat beracun. Kalau mengunyahnya, kita bisa muntah-muntah dan lidah mati rasa,” tambah Ning. Karenanya, bagian ini cuma digunakan sebagai obat luar untuk penyakit kulit.

Sudah tentu untuk menjadikan daging buah atau cangkangnya sebagai obat, perlu pengolahan terlebih dulu. Bisa dijadikan buah kering, teh racik, atau ramuan instan. Namun, yang sering dilakukan adalah dengan menjadikannya teh racik dan ramuan instan.

Bagian lain yang bisa dijadikan obat adalah batang dan daun. Menurut Ning dalam bukunya, batang mahkota dewa secara empiris bisa mengobati kanker tulang. Sedangkan daunnya bisa menyembuhkan lemah syahwat, disentri, alergi, dan tumor. Cara memanfaatkan daun adalah dengan merebus dan meminum airnya.

Jangan kaget. Begitu minum ramuan mahkota dewa, kita segera merasakan serangan kantuk. Efek ini normal. Efek lainnya adalah mabuk. Untuk menghilangkan efek ini dianjurkan untuk minum air lebih banyak. Untuk konsumsi selanjutnya, takaran mahkota dewa perlu dikurangi. Jika masih tetap mabuk, sebaiknya untuk sementara hentikan dulu. Di samping efek buruk tadi ternyata masih ada efek “baik”-nya. “Psst ... kadang-kadang kaum pria ada yang libidonya meningkat,” bisik Ning.

Menurut Ning, dalam proses menyembuhkan penyakit dalam atau penyakit serius macam kanker rahim, setelah pasien mengonsumsi seduhan mahkota dewa badannya bisa merasakan panas-dingin, bahkan kadang kala mengeluarkan gumpalan darah berbau busuk. “Ini merupakan proses pembersihan penyakit,” tulis Ning.

Penggunaannya bisa dalam bentuk ramuan tunggal bisa pula ramuan campuran. “Pencampuran dengan tumbuhan obat lain dimaksudkan untuk memperkuat khasiatnya dan menetralisir racun. Juga untuk mengurangi rasa tidak enaknya,” tutur Ning, yang mengaku sering melayani “resep” yang ditulis beberapa dokter.

Upaya penyembuhan menggunakan ramuan mahkota dewa, menurut Ning, tidak bisa cepat membuahkan hasil. Pengobatannya perlu dilakukan beberapa kali. Bahkan untuk penyakit berat yang kronis perlu waktu lama. Yang perlu diperhatikan adalah takaran penggunaannya mesti tidak melebihi yang dianjurkan. Kalau takarannya berlebih, pengaruh yang tidak diinginkan bisa muncul.

Mesti diingat, wanita hamil muda dilarang mengonsumsi mahkota dewa. Seperti dikutip Ning, Sumastuti juga telah membuktikan mahkota dewa mampu berperan seperti oxytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim sehingga memperlancar proses persalinan. Ini bisa membahayakan kehamilan yang masih muda.

Yang tak kalah penting, pesan Ning, dalam menggunakan ramuan mahkota dewa kita dianjurkan menyugesti atau menyakinkan diri bahwa ramuan ini manjur, berdoa untuk kesembuhan kita, dan tetap mengunjungi dokter untuk mengetahui perkembangan kesehatan kita. (intisari)

Resep untuk Menjinakkan Kanker

Pada orang dewasa, untuk mengobati kanker (payudara atau rahim) yang tidak terlalu parah atau sekadar upaya pencegahan, cukup gunakan satu sendok makan ramuan instan yang diseduh dengan segelas air minum. Minum sehari dua kali, pagi dan sore hari.

Bila penyakitnya serius, perlu ramuan campuran teh racik mahkota dewa dan kunyit putih instan. Caranya, kita rebus satu sendok teh teh racik mahkota dewa dalam tiga gelas air hingga airnya tinggal setengahnya. Lalu, tambahkan satu sendok teh kunyit putih instan. Ramuan ini diminum tiga kali sehari.
Untuk penyakit yang sangat serius dosis ini dibuat dua kali lipat atau sampai satu sendok makan teh racik mahkota dewa. Pengobatan ini memerlukan waktu 3 - 6 bulan. Setelah pasien merasa sembuh ramuan tetap dikonsumsi dengan takaran dikurangi.

Mengendalikan diabetes

Untuk mencegah atau mengobati penyakit diabetes yang tidak terlalu serius diperlukan 3 - 5 potong teh racik mahkota dewa yang direbus dalam tiga gelas air bersama tiga lembar daun salam. Perebusan dilakukan hingga air tinggal setengahnya. Ramuan ini diminum tiga hari sampai seminggu sekali. Sedangkan untuk mengobati diabetes parah kita merebus dengan cara yang sama: sesendok teh racik mahkota dewa dan tiga lembar daun salam. Ramuan diminum tiga kali sehari.


baca selanjutnya...

Sunday, July 25, 2010

Mahkota Dewa : Tanaman Penakluk Kanker

Dunia tanaman obat kini kedatangan pendatang baru yang lumayan hebat. Mahkota dewa namanya. Ia bisa membuat penderita penyakit ringan macam gatal-gatal, pegal-pegal, atau flu, hingga penyakit berat seperti kanker dan diabetes,merasakan kesembuhan.

Mengetahui khasiat tumbuhan satu ini, mungkin Anda segera berminat menanamnya. Betapa tidak. Tanaman ini ternyata punya khasiat luar biasa. Ia bisa menyembuhkan gangguan kesehatan dari yang ecek-ecek hingga yang nyaris tak ada harapan sembuh. Kalau cuma pegal-pegal, sehari dua hari bakal hilang. Flu? Wah, itu tugas yang juga bisa dibereskan dalam sehari dua hari. Diabetes pun bakal takluk dalam beberapa bulan.

Bagaimana dengan kanker? Meski butuh waktu bulanan, tanaman ini pun sanggup melawannya sampai titik darah penghabisan. Paling tidak itu berdasarkan pengalaman empiris banyak orang, termasuk yang merasa sembuh dari penyakit pada organ hati atau jantung, hipertensi, rematik, serta asam urat.

Untuk mengolahnya jadi obat pun sangat gampang. Cuma dengan menyeduh teh racik terbuat dari kulit dan daging buah, cangkang buah, atau daunnya, bahan obat alami ini pun siap dipakai. Kalau enggak menghendaki rasa pahitnya, kita bisa sedikit bersusah payah mengolahnya menjadi ramuan instan. Rasanya ditanggung lebih sedap tanpa mengurangi khasiat.

Itulah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa). Tanaman yang kabarnya berasal dari daratan Papua ini di Jawa Tengah dan Yogyakarta dijuluki makuto dewo, makuto rojo, atau makuto ratu. Orang Banten menyebutnya raja obat, karena khasiatnya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Sementara, orang-orang dari etnik Cina menamainya pau yang artinya obat pusaka.

Dari alergi hingga kanker

Sebagian orang mungkin pernah sekadar melihatnya, sebagian lagi mendengar namanya pun tidak pernah. Wajar bila selama ini sangat sedikit orang tahu mahkota dewa. Apalagi khasiatnya. Bahkan, di banyak lembaga penelitian yang menangani tumbuhan berkhasiat obat belum ditemukan hasil penelitiannya. Sampai saat ini, setidaknya baru dr. Regina Sumastuti dari Jurusan Farmakologi, Universitas Gadjah Mada yang telah menelitinya. Itu pun masih terbatas pada pengujian terhadap efek antihistamin atau antialergi. Padahal, kalangan keraton Solo dan Yogyakarta telah lama mengenalnya dan memanfaatkannya sebagai tanaman obat. Beruntung, lama-lama manfaat luar biasa ini bocor ke kalangan awam.

Sekarang, tanaman ini seakan turun dari langit sebagai dewa penyelamat orang sakit. Berbagai kesaksian dikemukakan mereka yang telah merasakan khasiatnya. Dalam buku Mahkota Dewa Obat Pusaka Para Dewa karya Ning Harmanto, ketua Kerukunan Wanita Tani Bunga Lily, yang menekuni pengobatan dengan mahkota dewa, ada 26 orang yang mengakui keampuhannya atau ditulis berhasil sembuh dari sakitnya berkat mahkota dewa.

Di antara mereka adalah Tuti Ariestyani Winata, yang setelah menjalani operasi pengangkatan kista di rahim, mengalami kemunduran kondisi tubuh. Badannya kurus, perutnya membuncit seperti sedang hamil tua, jari-jari kakinya menggemuk, tekanan darahnya naik-turun, dan Hb-nya sangat rendah.

Beberapa dokter yang dikunjunginya memberikan diagnosis berbeda. Ada yang mendiagnosisnya menderita kanker hati, sirosis hati, dan ada pula yang menyatakan dia menderita hepatitis kronis. Tak kunjung memperoleh kepastian penyakit yang dideritanya, atas saran Ning, Tuti akhirnya mengonsumsi air rebusan daging buah mahkota dewa. Setelah enam bulan, Tuti merasa sembuh dan kondisi tubuhnya membaik kembali.

Selain Tuti, Diana yang berdomisili di Bekasi menyatakan berhasil sembuh dari penyakit kanker di payudara kanannya setelah menjalani operasi dua kali lagi untuk membersihkan kanker di payudara kirinya. Anna Winata di Bogor dan Retno di Bekasi juga merasakan sehat kembali dari sakit kanker rahim berkat mahkota dewa. Ny. Parlan di Balikpapan pun berhasil menormalkan kadar gula darahnya berkat tumbuhan obat ini. Masih banyak lagi contoh keberhasilan yang lain. Sayangnya, yang tidak berhasil tidak pernah terungkap, sehingga tidak bisa diketahui penyakit apa yang tidak mampu dilawan tanaman berbuah merah menyala ini.

Selama ini daun dan buah mahkota dewa dimanfaatkan masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, sebagai obat penyakit kulit, gatal-gatal, dan eksim. Penyakit tersebut ditandai dengan gejala gatal-gatal, pertanda adanya alergi terhadap agen tertentu yang mendorong sel-sel tubuh mengeluarkan histamin.

Soal kemampuan melawan penyakit kulit ini Sumastuti sudah membuktikannya. Dari penelitian secara in vitro menggunakan usus halus marmot, diketahui, memang benar daun dan buah mahkota dewa mempunyai efek antihistamin. Artinya, tanaman tersebut secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya sebagai obat gatal-gatal akibat gigitan serangga atau ulat bulu, eksim, dan penyakit lain akibat alergi.

Penelitian lain masih kita tunggu untuk membuktikan khasiat luar biasa seperti yang dirasakan beberapa orang di atas. Namun, cerita dari mulut ke mulut rupanya sudah membuat orang, terutama yang sakit berat dan umumnya hampir putus harapan, percaya. Maka, orang pun mulai beramai-ramai mencari bagian berkhasiat mahkota dewa. Tak sedikit yang mencoba menanamnya di pekarangan rumah. Bahkan, ada yang melihat wabah ini sebagai peluang usaha untuk membudidayakan dan mengolahnya menjadi produk ramuan obat tradisional atau jamu dengan berbagai bentuk.

Dijadikan teh

Menanam mahkota dewa memang bukan perkara sulit. Tumbuhan, yang bisa hidup baik pada ketinggian 10 – 1.000 m dpl., ini bisa ditanam dari biji atau hasil cangkokan. Meski penanamannya bisa di dalam pot atau langsung di tanah, pertumbuhannya akan lebih baik bila ditanam di tanah. Tanaman dari biji biasanya sudah berbuah pada umur 10 – 12 bulan. Yang berasal dari cangkokan, mestinya berbuah lebih cepat.

Buah inilah bagian yang paling banyak digunakan sebagai obat alami, di samping daun dan batang. Dari ketiga bagiannya, yakni kulit dan daging buah, cangkang (batok biji), serta biji, yang dimanfaatkan umumnya kulit dan daging buah serta cangkangnya. Buah muda berwarna hijau dan yang tua berwarna merah cerah.

Khasiat buah muda dan tua sama saja, jelas Ning. Sayang, senyawa apa yang terkandung dalam bagian-bagian buah, masih belum terungkap secara detil. Cuma, Hutapea dkk. (1999), seperti dikutip Sumastuti, menyatakan, dalam daun dan kulit buah makuto dewo terkandung senyawa saponin dan flavonoid, yang masing-masing memiliki efek antialergi dan antihistamin.

Ning menulis, dalam keadaan segar, kulit dan daging buah muda mahkota dewa terasa sepet-sepet pahit. Sedangkan yang sudah tua sepet-sepet agak manis. Jika dimakan segar akan menimbulkan bengkak di mulut, sariawan, mabuk, bahkan keracunan. Apa penyebabnya, belum diketahui dengan pasti. Karenanya, tidak dianjurkan untuk mengonsumsinya dalam keadaan segar.

Cangkangnya memiliki rasa sepet-sepet pahit, lebih pahit dari kulit dan daging buah. Bagian ini juga tidak dianjurkan untuk dikonsumsi langsung karena dapat mengakibatkan mabuk, pusing, bahkan pingsan. Namun, setelah diolah, bagian ini lebih mujarab ketimbang kulit dan daging buah. Ia dapat mengobati penyakit berat macam kanker payudara, kanker rahim, sakit paru-paru, dan sirosis hati.

Ada alasan mengapa biji mahkota dewa tidak dikonsumsi. ”Bijinya sangat beracun. Kalau mengunyahnya, kita bisa muntah-muntah dan lidah mati rasa,” tambah Ning. Karenanya, bagian ini cuma digunakan sebagai obat luar untuk penyakit kulit.
Sudah tentu untuk menjadikan daging buah atau cangkangnya sebagai obat, perlu pengolahan terlebih dulu. Bisa dijadikan buah kering, teh racik, atau ramuan instan. Namun, yang sering dilakukan adalah dengan menjadikannya teh racik dan ramuan instan.
Bagian lain yang bisa dijadikan obat adalah batang dan daun. Menurut Ning dalam bukunya, batang mahkota dewa secara empiris bisa mengobati kanker tulang. Sedangkan daunnya bisa menyembuhkan lemah syahwat, disentri, alergi, dan tumor. Cara memanfaatkan daun adalah dengan merebus dan meminum airnya.

Jangan kaget. Begitu minum ramuan mahkota dewa, kita segera merasakan serangan kantuk. Efek ini normal. Efek lainnya adalah mabuk. Untuk menghilangkan efek ini dianjurkan untuk minum air lebih banyak. Untuk konsumsi selanjutnya, takaran mahkota dewa perlu dikurangi. Jika masih tetap mabuk, sebaiknya untuk sementara hentikan dulu. Di samping efek buruk tadi ternyata masih ada efek baik-nya. Psst … kadang-kadang kaum pria ada yang libidonya meningkat, bisik Ning.

Menurut Ning, dalam proses menyembuhkan penyakit dalam atau penyakit serius macam kanker rahim, setelah pasien mengonsumsi seduhan mahkota dewa badannya bisa merasakan panas-dingin, bahkan kadang kala mengeluarkan gumpalan darah berbau busuk. Ini merupakan proses pembersihan penyakit, tulis Ning.

Penggunaannya bisa dalam bentuk ramuan tunggal bisa pula ramuan campuran. Pencampuran dengan tumbuhan obat lain dimaksudkan untuk memperkuat khasiatnya dan menetralisir racun. Juga untuk mengurangi rasa tidak enaknya, tutur Ning, yang mengaku sering melayani resep yang ditulis beberapa dokter.

Upaya penyembuhan menggunakan ramuan mahkota dewa, menurut Ning, tidak bisa cepat membuahkan hasil. Pengobatannya perlu dilakukan beberapa kali. Bahkan untuk penyakit berat yang kronis perlu waktu lama. Yang perlu diperhatikan adalah takaran penggunaannya mesti tidak melebihi yang dianjurkan. Kalau takarannya berlebih, pengaruh yang tidak diinginkan bisa muncul.

Mesti diingat, wanita hamil muda dilarang mengonsumsi mahkota dewa. Seperti dikutip Ning, Sumastuti juga telah membuktikan mahkota dewa mampu berperan seperti oxytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim sehingga memperlancar proses persalinan. Ini bisa membahayakan kehamilan yang masih muda.

Yang tak kalah penting, pesan Ning, dalam menggunakan ramuan mahkota dewa kita dianjurkan menyugesti atau menyakinkan diri bahwa ramuan ini manjur, berdoa untuk kesembuhan kita, dan tetap mengunjungi dokter untuk mengetahui perkembangan kesehatan kita.@ (I Gede Agung Yudana)
Sumber : http://www.mahkotadewa.com/Indo/info/artikel/intisari0102.htm


baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sahabat Gema Herbal Medika

Site Meter

Pengunjung

free counters

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP